Logo Persib Bandung. (FOTO: Indosport)
Dokter klub Liga 1, Persib Bandung, yakni Rafi Ghani menentang keras peraturan rapid test yang dimasukkan oleh Federasi Sepak Bola Indonesia, yakni PSSI pada protokol kesehatan Liga 1 2020, karena ada beberapa alasan yang membuatnya merasa tidak setuju.
Rafi Ghani menjadi salah satu dokter klub sepak bola Indonesia yang yakin jika rapid test tidak efektif untuk diterapkan, khususnya bagi para pemain sepak bola, yang menurutnya rentan untuk dinyatakan positif atau reaktif.
“Saya sudah melihat sepintas protokol kesehatan untuk dimulainya Liga 1. Di sana ada salah satu poin yang saya tidak setuju karena pemeriksaan dengan rapid test,” kata Rafi dikutip dari Indosport.com.
“Jadi artinya setiap orang yang boleh masuk lapangan sudah lolos pemeriksaan rapid test yang non reaktif.”
Rafi belajar banyak tentang kasus virus corona yang menerpa Wander Luiz, pemain asal Brasil itu dinyatakan positif mengidap virus itu setelah menjalani swab test.
“Mengapa saya tidak setuju, karena ada salah seorang atlet saya yang pada bulan Maret terpapar covid-19 dengan pemeriksaan PCR. Setelah melakukan isolasi mandiri sembuh dengan sendirinya,” tambahnya.
“Nah saya berpikir pada atlet saya ini sudah terbentuk anti body, jadi kalau rapid test yang kita ketahui hanya untuk mengetahui anti body di dalam badan seseorang, artinya sudah bisa dipastikan itu akan reaktif atau positif pada saat pemeriksaan rapid test.”
Meski tidak setuju dengan penerapan rapid test, Rafi tetap memerintahkan pemain Persib untuk mematuhi protokol kesehatan lainnya, seperti memakai masker ketika keluar dan cuci tangan sesering mungkin.
Persib masih menjadi pemimpin puncak klasemen Liga 1 2020 setelah menjalani tiga pertandingan, Maung Bandung nyaman di posisi teratas dengan keunggulan 9 poin, berkat raihan kemenangan atas Persela Lamongan, Arema FC dan PSS Sleman.