Presiden Bolsonaro Berkeliaran Tanpa Masker di Saat Brasil Alami Lonjakan Kasus Harian
Presiden Bolsonaro Berkeliaran Tanpa Masker di Saat Brasil Alami Lonjakan Kasus Harian. (Foto: The Filipino Times)

Edisi88 – Seorang hakim Brasil menegur Jair Bolsonaro setelah sang Presiden menghadiri acara publik tanpa mengenakan masker di tengah tingginya kasus infeksi di negara tersebut.

Brasil merupakan negara dengan jumlah kasus infeksi virus corona terbanyak kedua di seluruh dunia, setelah Amerika Serikat, namun sang Presiden nampak abai untuk menaati prokotol kesehatan demi mencegah penyebaran.

Hakim Federal, Renato Borelli, mengumumkan dalam sebuah keputusan yang dibuat untuk publik pada hari Selasa (23/6) lalu bahwa Bolsonaro didenda sebesar 2.000 reais (5,3 juta rupiah) per hari jika dia terus mengabaikan protokol kesehatan yang dimaksudkan untuk menekan angka penyebaran.

Pengacara umum Brasil, yang berpendapat bahwa itu adalah kepentingan hukum pemerintah, merilis sebuah pernyataan yang menerangkan bahwa mereka sedang berusaha untuk membalikkan putusan tersebut.

Sang Presiden memang dikenal sebagai orang yang meremehkan COVID-19, setelah pernah mengeluarkan pernyataan ke publik bahwa penyakit ini hanya seperti flu biasa dan kerap membantah keterangan para ahli dalam hal menekan angka penyebaran.

Dia mengkritisi kebijakan lockdown dan social distancing yang diterapkan oleh para Gubernur dan Walikotanya, mengatakan bahwa dampak ekonomi akan lebih buruk daripada penyakit itu sendiri.

Selain Bolsonaro, pihak pemerintah lain yang dijatuhi hukuman serupa adalah mantan Menteri Pendidikan, yang baru mengundurkan diri pekan lalu, yang didenda 2.000 reais karena juga tidak mengenakan masker saat menghadiri sebuah acara pada awal bulan ini.

Lonjakan Jumlah Infeksi Harian Terbaru

Brasil baru saja mencatatkan lonjakan kasus harian baru, dengan melaporkan 42.725 kasus baru hanya dalam 24 jam pada hari Rabu (24/6) kemarin, sebagaimana yang diterangkan oleh Kementerian Kesehatan setempat.

Negara di benua Amerika Selatan tersebut juga mencatatkan total 1.185 kematian hanya dalam 24 jam terakhir, yang membuat jumlah total kematian di seluruh negeri mencapai 53.830.

Jumlah yang dilaporkan pada hari Rabu tersebut merupakan infeksi harian tertinggi kedua di Brasil sejak awal Pandemi. Namun demikian, pemerintah menyatakan bahwa rekor harian yang mencapai 54.771 pada tanggal 19 Juni lalu merupakan disebabkan oleh kesalahan sistem. 

Brasil kini telah mencatatkan jumlah infeksi total hampir 1,2 juta orang. Para ahli menerangkan bahwa di negara dengan populasi 212 juta jiwa dan kurangnya jumlah tes menyebabkan angka sebenarnya infeksi bisa jadi jauh lebih tinggi.

Kepala untuk Departemen Penyakit Menular dari Organisasi Kesehatan Pan-Amerika, Marcos Espinal, mendesak agar Brasil untuk segera meningkatkan jumlah pengujian, seiring dengan lonjakan terbaru pada hari Rabu kemarin.

Terlepas dari meningkatnya jumlah infeksi dan kematian, banyak daerah di Brasil yang mendukung rencana Presiden Bolsonaro untuk membuka kembali aktivitas perekonomian setelah berbulan-bulan menderita menaati peraturan untuk tetap berada di rumah demi menekan jumlah infeksi virus. Namun para ahli berpendapat bahwa itu masih terlalu awal.

“Kami seperti mengirim orang-orang ke rumah jagal,” kata Domingos Alves, seorang profesor kesehatan di Universitas Sao Paulo dan salah satu anggota komite saintifik pemantau krisis COVID-19 di Brasil. “Kurva di Brasil masih meningkat tajam. Kami masih belum melewati gelombang pertama.”

Belakangan, kota-kota terbesar di Brasil, seperti Sao Paulo dan Rio de Janeiro, yang merupakan tempat-tempat dengan jumlah infeksi terbesar, sudah mulai membuka kembali aktivitas perekonomian, meskipun jumlah kasus masih meningkat.

Orang-orang sudah bisa berbelanja lagi di Sao Paulo belakangan ini, selagi pantai terkenal di Rio dipenuhi oleh pengunjung pada akhir pekan lalu, yang kembali mencemaskan para ahli.